Selasa, 20 November 2012

Nuklir sebagai Sumber Energi Listrik



Listrik merupakan bentuk energi yang mengalir melalui jaringan kabel dan merupakan bentuk energi yang paling penting bagi manusia saat ini. Hampir semua aspek dalam kehidupan menggunakan dan memerlukan listrik. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan masyarakat semakin tergantung pada listrik. Pemanfaatan secara optimum bentuk energi ini oleh masyarakat dapat dibantu dengan sistem distribusi yang efektif. PT PLN (Perusahaan Listrik Negara) merupakan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang bertugas untuk menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia.
PT PLN sebagai perusahaan tunggal yang bertanggung jawab terhadap pasokan listrik di Indonesia, khususnya di Jawa-Bali mempunyai beberapa kebijakan energi listrik terhadap kapasitas listrik. Secara umum kebijakan energi nasional lebih bertumpu pada energi yang berasal dari fosil, terutama Bahan Bakar Minyak (BBM). Khusus tentang penyediaan energi listrik dari kapasitas PLN yang terpasang, 72,85% energi dihasilkan dari bahan bakar fosil, yang terdiri atas: 28,58% berasal dari pembangkit berbahan bakar gas, 25,28% dari minyak bumi, dan 18,99% berasal dari batu bara, sedangkan tenaga listrik yang dihasilkan oleh tenaga air sebesar 11,96%, dan yang dihasilkan oleh panas bumi sebesar 1,51%. Sumber bahan bakar fosil (BBM) yang terbatas dan harga BBM yang mencapai antara 60 – 70 US dollar per barel berdampak terhadap semakin mahalnya biaya penyediaan tenaga listrik nasional. Hal ini diperumit lagi dengan kemampuan negara untuk menanggung subsidi semakin menurun, sehingga TDL selalu mengalami kenaikan secara signifikan. Keadaan ini diperparah lagi dengan perilaku pengusaha yang mematikan generator listriknya pada saat beban puncak. Masalah ini ditambah dengan semakin tuanya pembangkit milik PLN yang berdampak terhadap terjadinya krisis tenaga listrik pada saat beban puncak.
Pemadaman listrik secara bergilir akan berdampak terhadap menurunnya produktivitas perekonomian. Ketiadaan tenaga listrik secara kontinyu akan mematikan industri kecil dan menengah yang rata-rata tidak memiliki sumber daya cadangan untuk menghadapi black out. Kebijakan hemat listrik nasional di satu sisi akan mengurangi konsumsi listrik, tetapi di sisi yang lain akan mengurangi kualitas kehidupan manusia. Tertundanya operasi medis, macetnya jalan raya, pembatasan jam tayang  siaran televisi dan radio merupakan bukti konkretyang dialami masyarakat.
Kebijakan hemat listrik seharusnya diimbangi dengan riset dan pengembangan tentang penyediaan alat-alat elektronik yang hemat listrik di pasaran. Dalam jangka panjang seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka kebutuhan akan energi listrik nasional juga mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. PLN seharusnya memperbaiki kondisi pembangkitnya dan menambah jumlah pembangkit untuk menjamin pasokan tenaga listrik nasional. Disamping itu untuk menghindari gejolak harga energi dunia maka perlu dilakukan diversifikasi energi. Hal ini untuk mengurangi resiko dan menjamin kepastian penyediaan energi listrik nasional.
Krisis energi yang dipicu dengan semakin naiknya harga BBM dapat membuka kemungkinan penerapan teknologi nuklir sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Penguasaan tentang teknologi nuklir oleh ahli-ahli Indonesia sudah diupayakan sejak lama. Pemanfaatan nuklir dapat ditempuh dengan memanfaatkan energi yang dikeluarkan melalui proses pembelahan inti atom uranium (proses fisi inti). Pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkit listrik memiliki keunggulan karena sifat dasar dari energi nuklir adalah sumber energi alam yang paling fundamental, konsentrasi energinya sangat tinggi, yaitu 1 gm U-235 atau setara dengan 3 juta gm batubara, volume limbah kecil, bahan bakar (uranium) relatif mudah didapat di pasaran dunia dan dapat disimpan. Keadaan ini akan menjamin pasokan bahan bakar reaktor nuklir untuk pembangkitan listrik. Sehingga apabila dilihat dari sifat dasarnya energi nuklir merupakan sumber energi di masa depan, karena masih mudah didapat di pasaran dunia, harganya tidak bergejolak, dan jumlah cadangan di dunia masih relatif banyak.
Sumber energi listrik baru bertenaga nuklir hingga saat ini mengalami penolakan dari masyarakat. Isu yang selalu diungkap adalah tentang kemungkinan kerusakan pada reaktor, sehingga akan menyebabkan pencemaran zat radioaktif yang luar biasa. Isu yang lainnya berkaitan dengan sampah radioaktif yang tidak mudah disimpan dan mendaur ulangnya. Kecelakaan reaktor chernobyl di negara bekas Uni Soviet dan bom atom Hiroshima-Nagasaki merupakan contoh yang selalu dikedepankan, sehingga muncul istilah "Nuclear Phobia", ketakutan yang berlebihan terhadap teknologi nuklir. Keberatan penguasaan teknologi nuklir oleh Indonesia juga datang dari negara maju yang menguasai dunia. Kekhawatiran muncul berkaitan dengan kemungkinan penggunaan nuklir sebagai senjata pemusnah masal. Hal ini disebabkan secara teknis merubah sebuah PLTN menjadi senjata pemusnah masal tidak memerlukan waktu yang lama. Isu ini dapat ditepis dengan kampanye yang menunjukkan keseriusan Indonesia dalam pengggunaan energi nuklir hanya untuk tujuan damai dan bukan untuk tujuan perang.

Dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar